Relevansi Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah

LENTERA NEWS – Penulis: Ilham Wahyu Hidayat (Guru SMP Negeri 11 Malang)

Harus diakui rokok memberikan sumbangan besar pada negara. Dikutip dari sebuah artikel di media siber, kementerian Perindustrian mencatat pada tahun 2018 kemarin, cukai rokok memberikan kontribusi Rp 153 triliun, hampir 96 persen dari total cukai nasional, atau setara dengan 10 persen dari total pendapatan pemerintah.

Lucunya dunia pendidikan menutup mata terhadap fakta di atas. Mereka menganggap seolah-olah semua kontribusi itu tidak ada. Di mata mereka sepetinya rokok itu barang haram. Sikap ini secara tegas dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah.

Dalam Pasal 2 Permendikbud di atas dinyatakan kawasan tanpa rokok bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan bebas rokok. Untuk merealisasikan tujuan ini, sekolah diwajibkan melakukan lima kegiatan.
Pertama, memasukkan larangan terkait rokok dalam aturan tata tertib sekolah.

Kedua, melakukan penolakan terhadap penawaran iklan, promosi, pemberian sponsor, dan atau kerja sama dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh perusahan rokok dan atau organisasi yang menggunakan merek dagang, logo, semboyan, dan atau warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas perusahan rokok, untuk keperluan kegiatan kurikuler atau ekstra kulikuler yang dilaksanakan di dalam dan di luar Sekolah.

Ketiga, memberlakukan larangan pemasangan papan iklan, reklame, penyebaran pamflet, dan bentuk-bentuk iklan lainnya dari perusahaan atau yayasan rokok yang beredar atau dipasang di lingkungan Sekolah.

Keempat, melarang penjualan rokok di kantin atau warung sekolah, koperasi atau bentuk penjualan lain di lingkungan Sekolah.

Kelima, memasang tanda kawasan tanpa rokok di Lingkungan Sekolah.

Semua warga sekolah, mulai Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan, Siswa dan pihak lain juga diwajibkan mendukung Permendikbud ini. Semua ini disampaikan secara rinci di Pasal 5 dalam lima ayat.

Ayat Pertama, Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan Pihak lain dilarang merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, dan atau mempromosikan rokok di Lingkungan Sekolah.

Ayat Kedua, Kepala sekolah wajib menegur dan atau memperingatkan dan atau mengambil tindakan terhadap guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik apabila melakukan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Ayat Ketiga, Kepala sekolah dapat memberikan sanksi kepada guru, tenaga kependidikan, dan Pihak lain yang terbukti melanggar ketentuan Kawasan tanpa rokok di Lingkungan Sekolah.

Ayat Keempat, Guru, tenaga kependidikan, dan atau peserta didik dapat memberikan teguran atau melaporkan kepada kepala sekolah apabila terbukti ada yang merokok di Lingkungan Sekolah.

Ayat Kelima, Dinas pendidikan setempat sesuai dengan kewenangannya memberikan teguran atau sanksi kepada kepala sekolah apabila terbukti melanggar ketentuan Kawasan tanpa rokok di Lingkungan Sekolah berdasarkan laporan atau informasi dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan atau Pihak lain.

Ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan dalam Permendikbud ini. Salah satunya adalah tujuannya yang terkesan kurang mengena pada sasaran.

Tujuan yang ingin dicapai pada Pasal 2 adalah menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Logikanya apakah untuk mencapai ini harus dengan menerapkan larangan merokok di lingkungan sekolah ?

Rokok atau merokok hanya salah satu aspek saja yang membuat lingkungan tercemar. Untuk menciptakan lingkungan sekolah bersih dan sehat lebih tepat di arahkan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Sekedar contoh, yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan program Adiwiyata yang sudah banyak diikuti oleh banyak sekolah di Indonesia. Sebenarnya ini sudah cukup ampuh untuk mewujudkan tujuan dalam Pasal 2 di atas.
Memang diakui rokok berbahaya bagi kesehatan. Menurut sebuah artikel di media siber lebih dari 1,3 juta orang dalam setiap tahunnya meninggal akibat mengonsumsi tembakau di Asia Tenggara. Dengan wilayah yang terdiri dari 250 juta perokok, jumlah ini hampir menyamai jumlah orang tidak merokok, Hal ini disampaikan pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk regional Asia Tenggara, Dr Poonam Khetrapal Singh.

Meskipun demikian ini bukan alasan relevan untuk pelarangan rokok di sekolah. Menanamkan nilai-nilai karakter seperti nilai “peduli lingkungan” dan nilai “peduli sosial” seperti yang disampaikan dalam Pasal 3 Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter sebenarnya jauh lebih penting untuk membentuk kesadaran warga sekolah akan lingkungan yang bersih dan sehat.

Makna kata karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Jika karakter peduli lingkungan dan peduli sosial telah terbentuk maka untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan bebas rokok otomatis tercipta tanpa Permendikbud Nomor 64 Tahun 2015.

Artikel ini dikirim ke Redaksi media ini pada 27 November 2019

- Advertisement -Download

BACA JUGA

Video: Pegawai KPU Protes Petugas Covid dan Sebut SE Bupati Halteng tak Masuk Akal

LENTERA NEWS -- Salah satu ASN yang bekerja di kantor KPU menilai surat edaran Bupati Halmahera Tengah tidak masuk akal, karena bagi...

Ditahan Petugas Covid, Pegawai KPU ini Menilai SE Bupati Halteng tak Masuk Akal

LENTERA NEWS -- Salah satu ASN yang bekerja di kantor KPU menilai surat edaran Bupati Halmahera Tengah tidak masuk akal, karena bagi...

Ketua Komisi III DPRD Malut Serius Menanggapi Keluhan Warga Pulau Taliabu

LENTERA News – Dugaan lahan hutan Mangrove dirusaki dan diperjualbelikan oleh oknum tidak bertanggung jawab sehingga salah satu warga Taliabu keluhkan hal...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

POPULER

Surat Sultan Tidore buat Presiden Jokowi

Assalamualaikum wr.wb. Inilah warkatul ikhlas, yang kami sampaikan kepada Bapak dalam rangka menyambut HUT KEMERDEKAAN RI ke-74 dengan harapan dan doa semoga Bapak dan kelurga...

Tunjangan hari raya dan gaji-13 akan dibayarkan pada 24 Mei.

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Tunjangan hari raya dan gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara atau PNS pemerintah daerah akan dibayarkan tepat waktu merujuk pada peraturan pemerintah...

Rusia Menanggapi Sikap AS Menambah Pasukan Militer di Timteng

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin, 27 Mei 2019 mengatakan, kemungkinan peningkatan keberadaan militer Amerika Serikat di Timur Tengah bisa...

46 PNS Dipecat Akibat Doyan Bolos dan Kasus Perzinaan

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) memecat 42 Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang doyan bolos. Keputusan itu diambil dalam sidang terhadap 46 PNS yang...

Jadi Pejabat, Anies: Dicaci tidak Tumbang, Dipuji tidak Terbang

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan tak luput dari kritikan masyarakat