Pakar: Upaya Media Barat Sudutkan Turki dan Erdogan

LENTERA NEWS – Dalam kolom terbarunya di Daily Sabah pada Selasa, 13 Oktober 2020- pakar politik Turki, Burhanettin Duran mengatakan konflik Nagorno-Karabakh memicu retorika anti-Turki yang paling baru. Pemerintahan Tayyip Erdogan mendukung Azerbaijan melawan Armenia dalam perebutan wilayah di perbatasan tersebut.

Duran mencatat sejumlah media Barat yang memojokan Turki dalam perang Azerbaijan-Armenia. Seperti majalan Prancis yang menyebut pertempuran Nagorno-Karabakh sebagai ‘perang baru Erdogan’.

Majalah itu melaporkan Erdogan sengaja membuka front baru di Kaukus Selatan setelah pertempuran di Suriah, Libya, Mediterania Timur, Irak dan Siprus. Sementara majalan Prancis lainnya Le Point menunjukkan anti-Erdogan ke tahapan selanjutnya dengan menyamakan Erdogan dengan Adolf Hitler.

“Dan menuduhnya mempromosikan nasionalisme Ottoman untuk ‘ke masa kejayaan di masa lalu’. Majalah itu sekali lagi menunjukkan Erdogan, mengambil sorotan ke Presiden Prancis Emmanuel Macron yang tidak diragukan penyebab agresivitas Prancis akhir-akhir ini,” tulis Duran di Daily Sabah.

Duran menulis Azerbaijan secara terbuka mempertanyakan keterlibatan Prancis di kelompok yang mendorong perundingan di Nagorno-Karabakh, Minsk Group. Menurutnya Azerbaijan justru meminta Turki untuk duduk di meja perundingan. Duran membela Erdogan dan menyerang Macron.

“Macron mungkin berpikir dapat mengambil luasnya pengalaman Erdogan cara yang baik untuk menyembunyikan sedikitnya pengalamannya, tapi ia tidak dapat membodohi siapapun, agresivitas putus asa Eropasentris terlalu akrab,” tambah Duran.

Duran mengatakan setiap kali Ankara membuat kebijakan luar negeri. Media-media Barat selalu muncul label baru yang tidak dapat dibedakan satu sama lain. Seperti Sultan Baru, Khalifah, Diktaktor. Menurut Duran media-media Barat tidak bisa mengubah cara pandang mereka yang memusuhi Turki.

“Apakah dia Ketua Ikhwanul Muslimin? Apakah dia Neo-Ottoman? Pendukung Pan-Turki atau Eurosianis? Atau mungkin pemimpin yang mendorong nasionalisme untuk menutupi turunnya kepopulerannya? Seorang Neo-Kemalis? Jelas presiden bukan itu semua, dia kuat, berpengalaman dan pemimpin yang berbakat,” tulis Duran.    

Duran mengatakan aktivitas Turki dalam kebijakan-kebijakan luar negerinya tidak berdasarkan ideologi. Tapi mencerminkan kemampuan untuk mengidentifikasi perubahan urusan global dan regional. Tujuannya bukan memperluas wilayah tapi memperkuat agensinya. Source:

Republika.co.id

- Advertisement -Download

BACA JUGA

Di Back Up TNI dan Tim Terbaik Polri, Kapolda Sulteng Berkantor di Poso Buru Kelompok MIT

LENTERA MALUT -- Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis memerintahkan Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Irjen Pol Abdul Rakhman Baso untuk berkantor di Poso....

Membaca Arah Kebijakan Pembentukan UU Ciptaker

LENTERA NEWS -- Pada 5 Oktober lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang....

Logo Sumpah Pemuda 2020 Dirilis Kemenpora. Ini Maknanya

LENTERA NEWS -- Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali secara resmi melaunching logo Hari Sumpah Pemuda ke-92 tahun...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

POPULER

Surat Sultan Tidore buat Presiden Jokowi

Assalamualaikum wr.wb. Inilah warkatul ikhlas, yang kami sampaikan kepada Bapak dalam rangka menyambut HUT KEMERDEKAAN RI ke-74 dengan harapan dan doa semoga Bapak dan kelurga...

Tunjangan hari raya dan gaji-13 akan dibayarkan pada 24 Mei.

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Tunjangan hari raya dan gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara atau PNS pemerintah daerah akan dibayarkan tepat waktu merujuk pada peraturan pemerintah...

Jadi Pejabat, Anies: Dicaci tidak Tumbang, Dipuji tidak Terbang

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan tak luput dari kritikan masyarakat

Rusia Menanggapi Sikap AS Menambah Pasukan Militer di Timteng

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin, 27 Mei 2019 mengatakan, kemungkinan peningkatan keberadaan militer Amerika Serikat di Timur Tengah bisa...

46 PNS Dipecat Akibat Doyan Bolos dan Kasus Perzinaan

NEWS.LENTERA.CO.ID -- Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) memecat 42 Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang doyan bolos. Keputusan itu diambil dalam sidang terhadap 46 PNS yang...