Rusia Menanggapi Sikap AS Menambah Pasukan Militer di Timteng

Presiden AS Donald Trump akan mengirim 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah (Timteng).

NEWS.LENTERA.CO.ID — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin, 27 Mei 2019 mengatakan, kemungkinan peningkatan keberadaan militer Amerika Serikat di Timur Tengah bisa menimbulkan risiko-risiko baru. Peringatan itu dikeluarkan Lavrov saat mengomentari niat Presiden AS Donald Trump mengirim 1.500 tentara tambahan ke kawasan itu.

“Menyangkut keputusan Presiden Trump untuk mengirimkan 1.500 tentara menambah pasukan yang sudah ditempatkan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, jadi seperti yang kita tahu, pada saat keberadaan militer kemungkinan ditingkatkan, risiko juga akan meningkat. Saya sangat berharap pendapat yang bijaksana dari berbagai pihak di Washington, termasuk dari para mantan pemimpin militer, politikus, diplomat yang terhormat akan didengar bahwa perang terhadap Iran adalah pemikiran yang ceroboh,” kata Lavrov kepada para wartawan.

Trump sebelumnya mengatakan AS akan mengirim 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah dalam rangka melindungi pasukan AS, yang terlebih dahulu ditempatkan di kawasan tersebut. Iran mencela langkah itu dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap perdamaian internasional.

Pengerahan tambahan itu akan termasuk pesawat pengintai, jet tempur, petugas teknik dan 600 personel batalion pertahanan peluru kendali Patriot di Timur Tengah. Pentagon, markas Departemen Pertahanan AS, memutuskan pengerahan tambahan itu dengan alasan ada serangkaian serangan kecil pada Mei, yang diduga dilancarkan oleh pasukan Iran, yaitu Korps Garda Revolusi Iran, serta pasukan-pasukan suruhan.

Teheran membantah keras dugaan terlibat. Saat menanggapi langkah terbaru AS untuk meningkatkan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada Ahad, 26 Mei 2019 mengatakan negaranya akan mempertahankan diri dari upaya-upaya perang.

Hubungan AS dengan Iran menjadi tegang pada 2018 ketika Presiden Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran, yang ditandatangani AS pada masa kepemimpinan Presiden Barack Obama, dan pemerintahan Trump kemudian menerapkan sanksi-sanksi baru terhadap Teheran.

Sumber: republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Emil Salim: Pemindahan Ibu Kota tidak Relevan

LENTERA NEWS -- Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Emil Salim beranggapan bahwa pemindahan ibu kota Indonesia ke wilayah lain tidak lantas...

Sumbang Miras ke Mahasiswa Papua, Polwan ini Dinonaktifkan

LENTERA NEWS -- Polisi wanita (polwan) yang memberikan dua lusin minuman keras kepada mahasiswa Papua di Bandung, Jawa Barat (Jabar), telah dinonaktifkan. Penonaktifan polwan...

Bentrokan di Kashmir Akibat, Sekitar 150 Orang Terluka

LENTERA NEWS -- Dua rumah sakit utama di Kashmir mencatat, lebih dari 150 orang menderita luka-luka akibat terkena gas air mata dan peluru karet...

Soal Papua, Mahfud MD: Perlu Dialog

LENTERA NEWS -- Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK), Mahfud MD menyayangkan sejumlah kericuhan yang terjadi di Papua akibat perlakuan rasisme dan persekusi mahasiswa Papua...

Indonesia Bebas Malaria, 18 Miliar Dolar Terselamatkan

LENTERA NEWS -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan Indonesia Bebas Malaria pada 2030 mendatang. Bila hal itu terjadi, pemerintah bisa menghemat...

Terpopuler

Emil Salim: Pemindahan Ibu Kota tidak Relevan

LENTERA NEWS -- Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Emil Salim beranggapan bahwa pemindahan ibu kota Indonesia ke wilayah lain tidak lantas...

Sumbang Miras ke Mahasiswa Papua, Polwan ini Dinonaktifkan

LENTERA NEWS -- Polisi wanita (polwan) yang memberikan dua lusin minuman keras kepada mahasiswa Papua di Bandung, Jawa Barat (Jabar), telah dinonaktifkan. Penonaktifan polwan...

Bentrokan di Kashmir Akibat, Sekitar 150 Orang Terluka

LENTERA NEWS -- Dua rumah sakit utama di Kashmir mencatat, lebih dari 150 orang menderita luka-luka akibat terkena gas air mata dan peluru karet...

Soal Papua, Mahfud MD: Perlu Dialog

LENTERA NEWS -- Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK), Mahfud MD menyayangkan sejumlah kericuhan yang terjadi di Papua akibat perlakuan rasisme dan persekusi mahasiswa Papua...

Indonesia Bebas Malaria, 18 Miliar Dolar Terselamatkan

LENTERA NEWS -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan Indonesia Bebas Malaria pada 2030 mendatang. Bila hal itu terjadi, pemerintah bisa menghemat...

Di Bandung, Mahasiswa Papua Trauma dan Ingin Pulang

LENTERA NEWS -- Mahasiswa Papua di Kota Bandung mengaku trauma dan tidak nyaman dengan kondisi memanasnya isu rasialisme. Karena itu, ingin kembali pulang ke...

Depan Jamaah, UAS Sampaikan 4 Pesan Penting

LENTERA NEWS -- Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan kuliah umum dan tabligh akbar di Kampus Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Kamis, 22 Agustus...

Puluhan Ribu Rakyat Papua Unjuk Rasa

Jayapura, News.lentera.co.id – Unjukrasa yang terjadi di sejumlah kota di Papua terkait persekusi dan rasisme yang dialami para mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, dan...

Meriahkah HUT RI Ke 74, Warga Deah Pangwa Gelar Lomba

Pidie Jaya, News.lentera.co.id -- Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-74 disambut meriah oleh pemuda dan warga Gampong Deah Pangwa. Beragam lomba termasuk panjat pinang (ek...

Surat Sultan Tidore buat Presiden Jokowi

Assalamualaikum wr.wb. Inilah warkatul ikhlas, yang kami sampaikan kepada Bapak dalam rangka menyambut HUT KEMERDEKAAN RI ke-74 dengan harapan dan doa semoga Bapak dan kelurga...