Satelit Menunjukkan Korut Siap Luncurkan Roket, Ini Tanggapan Trum

Peningkatan aktivitas ini terjadi di sekitar situs yang dikenal sebagai Sanumdong.

LENTERA NEWS — Gambar satelit dari sebuah fasilitas di dekat Pyongyang menunjukkan, Korea Utara (Korut) mungkin bersiap meluncurkan roket atau satelit.

Dilansir dari Republika.co.id, peningkatan aktivitas ini terjadi di sekitar situs yang dikenal sebagai Sanumdong. Tempat tersebut dikenal sebagai lokasi Korut mengumpulkan sebagian besar rudal balistik dan roketnya. Ini muncul setelah laporan awal pekan ini, situs peluncuran roket utama Korut di Sohae telah dibangun kembali.

Adapun kendaraan besar terlihat bergerak di sekitar Sanumdong. Gambar satelit diterbitkan oleh jaringan radio publik AS, NPR.

Wartawan BBC di Seoul, Laura Bicker mengatakan, Korut mungkin akan menguji AS setelah pembicaraan di Hanoi antara Donald Trump dan Kim Jong-un gagal. Korut berharap AS akan menawarkan kesepakatan yang lebih baik untuk menghindari peluncuran.

Koresponden menambahkan, para ahli mengatakan roket yang digunakan untuk meluncurkan satelit biasanya tidak cocok digunakan sebagai rudal jarak jauh. Pekerjaan membongkar situs Sohae dimulai tahun lalu, tetapi berhenti saat pembicaraan dengan Amerika Serikat terhenti. Pada Jumat, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan kecewa jika Korut melanjutkan pengujian senjata.

“Saya akan terkejut secara negatif jika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahaman kita. Tapi kita akan lihat apa yang terjadi. Saya akan sangat kecewa jika saya melihat pengujian,” kata Trump.

Analis percaya kemungkinan besar pada tahap ini Korut bersiap meluncurkan satelit daripada menguji coba rudal. Namun, AS mengatakan awal pekan ini, langkah tersebut akan tidak konsisten dengan komitmen yang telah dibuat pemimpin Korut Kim Jong-un kepada Presiden Trump.

Pertemuan yang sangat dinantikan antara kedua pemimpin di ibu kota Vietnam pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Ini terjadi atas perbedaan seberapa besar Korut bersedia membatasi program nuklirnya sebelum diberikan bantuan sanksi.

Fasilitas peluncuran Sohae di situs Tongchang-ri telah digunakan untuk peluncuran satelit, dan pengujian mesin tetapi tidak pernah untuk peluncuran rudal balistik. Gambar satelit pekan ini, yang berasal dari beberapa lembaga pemikir AS dan kesaksian dari dinas intelijen Korea Selatan, tampaknya menunjukkan kemajuan pesat dalam membangun kembali struktur di landasan peluncuran roket. Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan Korut masih dapat menghadapi sanksi lebih banyak jika tidak ada kemajuan dalam denuklirisasi.

Menanggapi hal itu, presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Jumat kemarin, bahwa di akan kecewa jika Pyongyang memulai lagi pengujian senjata. Namun, Trump mengulangi kembali keyakinannya dalam hubungannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kendati pertemuan puncak kedua pekan lalu mengalami kegagalan.

“Saya akan terkejut dalam cara yang negatif jika ia melalukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahaman kami. Tapi kami akan lihat apa yang terjadi,” kata Trump kepada wartawan. “Saya akan sangat kecewa jika saya melihat pengujian (senjata nuklir).”

Komentar Trump muncul setelah dua pusat kajian AS dan lembaga mata-mata Seoul mengatakan pekan ini, bahwa Korea Utara sedang membangun kembali tempat peluncuran roket di Sohae di bagian barat negara itu. Juga tersiar laporan-laporan dari dinas intelejen Korea Selatan mengenai aktivitas baru di sebuah pabrik di Sanumdong dekat Pyongyang yang memproduksi peluru-peluru kendali balistik antarbenua pertama Korea Utara yang mampu mencapai AS.

Pada Jumat, Radio Publik Nasional AS mengutip sejumlah pakar dari Middlebury Institute of International Studies di Kalifornia bahwa, gambar-gambar satelit dari Sanumdong yang diambil pada 22 Februari dan pada Jumat menunjukkan Korea Utara siap meluncurkan satu rudal atau roket luar angkasa. Jeffrey Lewis, salah seorang pakar, mengatakan kepada Reuters, aktivitas di dua tempat tersebut “barangkali berkaitan.”

NPR mengatakan, foto-foto pada 22 Februari menunjukkan mobil-mobil, truk-truk dan mobil-mobil pengangkut dan dua alat berat di Sanumdong, sementara gambar-gambar yang diambil pada Jumat memperlihatkan aktivitas telah dihentikan dan salah satu alat angkut telah tak ada lagi. Beberapa pakar lain, termasuk Joel Wit di 38 North dan Michael Ellman dari International Institute for Strategic Studies memberikan pendapat bahwa simpulan tersebut spekulatif.

“Dalam tiga bulan belakangan telah tersiar berbagai laporan mengenai kegiatan di tempat ini yang bisa jadi bohong,” kata Wit, merujuk ke Sanumdong. “Bisa jadi kegiatan ini untuk persiapan atau peluncuran atau bukan.”

Gedung Putih dan Pentagon tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan untuk berkomentar. Departemen Luar Negeri menolak untuk berkomenetar.

Korea Utara telah membekukan pengujian rudal dan nuklir sejak 2017. Dan Trump telah menyatakan ini hasil positif dari perangkulan tingkat tinggi dengan Pyongyang selama hampir setahun. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -