Lebih Baik Diam!

Mengapa ada orang menyebarkan video ustaz ceramah tentang azab dikaitkan tsunami?

LENTERA.CO.ID — Oleh: Asma Nadia

BACA:
Inilah Tujuh Penyebab Musibah Beruntun
2018, Penemuan 5 Hal ini Paling Menghebohkan
Ini Aturan Memotong Rambut bagi Muslimah
Pemerintah Pertimbangkan Sanksi Penyalur KUR

Seorang ayah dengan semangat 45 memberi kabar gembira pada putra-putrinya.

“Siapkan perlengkapan renang, liburan kali ini kita jalan-jalan ke pantai!”

Raut wajah buah hatinya sontak berubah dihinggapi keriangan, sementara sang istri mendekat.

“Yah, bukannya kita harus hemat.”

Suaminya mengecup kening istrinya sambil berbisik mesra,

“Tenang Bunda. Ayah dapat job. Mereka menyediakan satu cottage untuk kita sekeluarga. Semua urusan transportasi dan konsumsi ditanggung. Jadi kita tidak keluar biaya.”

Anaknya bersorak kian keras.

Di sudut kota lain, seorang suami memberi kejutan pada istrinya.

“Sayang, alhamdulillah doa kamu terwujud.”

Paras cantik istrinya masih diliputi ketidakmengertian,

“Doa apa?”

Kan kamu selalu bilang mau bulan madu kedua. Ini ada acara akhir tahun family gathering dari kantor. Tempatnya bagus di pinggir pantai.”

Bulan madu kedua bersama suami yang dicintai, sungguh rezeki akhir tahun.

Sang istri mengangguk menahan haru. Sepasang mata indahnya memercikkan kebahagiaan, saat mengucapkan hamdalah.

Potongan adegan di atas bermain di imajinasi saya, ketika mendengar berita tsunami menerjang Selat Sunda dan menyaksikan sendiri video bagaimana bencana tersebut mengempas kerumunan manusia.

Terngiang pedih hati suami yang kehilangan istri saat mereka merencanakan hari-hari kebersamaan yang indah.

Tak terbayang duka seorang anak kehilangan kedua orang tua pada saat bersamaan tanpa sempat mengucapkan kalimat perpisahan.

Tak terlukis beban duka seorang ibu dan ayah yang kehilangan anak dan cucunya secara tiba-tiba, padahal sehari sebelumnya baru tertawa dan bercengkerama.

Sekelebat perasaan yang membuat hati ikut teriris.

Namun tak lama berselang, kesedihan menjelma marah, bercampur malu, juga bingung.

Seorang teman membagi sebuah video ceramah dari ustaz yang berbicara tentang azab, dan laut sebagai sarana Tuhan mengazab manusia.

Mungkin ceramahnya sendiri tidak langsung berkenaan tsunami tersebut. Namun, sebagian orang membagikan dan mengait-ngaitkan ceramah tersebut dengan tsunami yang baru saja terjadi.

Jujur saya tidak mengerti apa yang ada di kepala mereka yang dengan sengaja menyebarkan video demikian saat keluarga korban dirundung duka.

Apakah mereka tidak punya hati? Dengan mudah menganggap yang terjadi adalah azab. Apakah hanya duduk di pantai dan menonton konser sebagian bersama keluarga, lalu dianggap tercela dan pantas mendapatkan azab, lebih dari belahan bumi manapun?

Belum genap keheranan saya, kembali ada yang membagikan beberapa berita sebuah tempat yang juga di pinggir pantai, tapi bebas dari tsunami. Kebetulan di sana diselenggarakan kegiatan menghapal Alquran. Sekalipun awalnya ini murni sebagai ungkapan rasa syukur bahwa Allah melindungi, tapi beberapa yang tidak bijak lalu sibuk membandingkan dua kondisi, panggung diazab dan kegiatan agama dilindungi.

Sulit dipercaya. Atmosfer duka masih kental. Namun, manusia cepat sekali menjadi hakim untuk menilai siapa yang layak dimusnahkan dari muka bumi. Padahal, kita tidak tahu apa rahasia Allah di balik musibah yang terjadi.

Sebagai manusia, apalagi seorang Muslim, ketika ada saudara tertimpa bencana, yang kita lakukan, pertama sekali tentu mengucapkan //inna lillahi//. Segala sesuatu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, sambil mendoakan agar mereka yang belum jelas keberadaannya semoga mendapat perlindungan Allah. Doa lain, keluarga yang ditinggalkan semoga dilimpahkan kesabaran, dan mereka yang wafat diberi ampunan atas salah dan dosanya. Karena itu, juga yang kita inginkan jika kita atau keluarga menjadi korban.

Kedua, memberi bantuan. Jika berdekatan hadir membantu dengan tenaga dan fasilitas yang kita miliki. Jika jauh bantu dengan donasi semampunya.

Ketiga, melakukan sesuatu agar jika bencana yang sama terjadi tidak memakan korban yang banyak. Misalnya, menandatangani petisi mendukung early warning system.

Intinya, berbuat sesuatu yang sanggup setidaknya sedikit meringankan saudara kita, yang sedang melalui banyak kehilangan.

Kalau tidak mau atau mampu melakukan hal-hal di atas, lebih baik diam.

Hindari sikap sok tahu dan bermain di wilayah Allah, bahwa ini azab. Jangan pula membagikan informasi yang menyakitkan keluarga korban.

Ingat, kita bukan Allah dan kita tidak tahu rahasia Dia. Terlebih setiap musibah bisa merupakan dua hal, pertama ujian agar kita naik kelas, secara keimanan dan kedua, bagi kaum yang ingkar sebagaimana kaum Nabi Luth, Nabi Nuh, atau Firaun, dia merupakan azab. Namun kembali lagi, hanya Allah yang Mahatahu. Bukan tempat manusia untuk menghakimi dan menodai kedukaan yang sedang dialami keluarga korban.

Kita hanya manusia, terbatas pengetahuan, terbatas penglihatan. Dan karena kita bukan siapa-siapa, dan tidak tahu apa-apa, mari belajar berkata yang baik atau diam.

(Source: Republika.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -