Ini Aturan Memotong Rambut bagi Muslimah

Tampil menarik dan cantik merupakan hal yang diinginkan oleh setiap Muslimah.

JAKARTA, LENTERA.CO.ID — Tampil menarik dan cantik merupakan hal yang diinginkan oleh setiap Muslimah. Islam sendiri mewajibkan umatnya un tuk senantiasa menjaga penampilannya. Allah SWT dalam salah satu ayat Alquran memerintahkan agar memperhatikan kebersihan diri demi tampilan yang menarik dan indah.

Seperti dilansir dari Republika, bahwa dalam surah al-A’raf ayat 31 Allah ber sabda, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Serupa dengan firman Allah, Rasulullah SAW pun memerintahkan umat untuk menjaga keindahan. Diriwayatkan dalam HR Muslim, Rasul menyebut, “Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Salah satu yang perlu dijaga kerapihannya adalah rambut. Rambut merupakan mahkota bagi perempuan dan dibutuhkan perawatan agar tetap indah, meski rambut termasuk dalam aurat Muslimah.

Salah satu cara menjaga rambut dengan memotongnya. Perihal boleh tidaknya seorang Muslimah, Abu Salamah bin Abdurrahman menyebut, “Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong rambut mereka, hingga panjangnya seperti al-wafrah.” Al-wafrah ini adalah rambut yang panjangnya sampai daun te linga, namun tidak melebihi daun telinga.

BACA 2018, Penemuan 5 Hal Baru Ini Paling Menghebohkan

Seorang Muslimah diizinkan memotong rambut, tapi dalam batasan-batasan dan aturan tertentu. Muslimah yang ingin memotong rambut, tidak diperbolehkan menyerupai model rambut wanita kafir atau fasik. Ini sesuai dengan sabda Rasul, “Siapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk kaum itu.”

Kedua, Muslimah tidak diizinkan memotong rambut menyerupai laki-laki. Dalam HR Bukhari disebut, “Rasulullah melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” Dalam Hadis shahih riwayat Abu Zur’ah menyebut, “Wanita tidak boleh mencukur habis rambutnya tetapi boleh memendekkannya.”

Potongan rambut lelaki identik dengan potongan sangat pendek. Wanita Muslimah dalam kondisi tertentu seperti sakit dan membantu pengobatan diperbolehkan untuk memotong pendek rambutnya atau menghabiskannya sekalian.

Untuk Muslimah yang telah bersuami, diharuskan meminta izin terlebih dahulu ketika hendak memotong rambut. Sebelumnya, para istri Nabi memotong rambut setelah Rasulullah SAW wafat. Ini memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seorang istri berusaha berhias dan menampakkan kondisi paling menarik bagi suaminya.

Bagi Muslimah yang ingin memanjang kan rambut, ia harus betul-betul mem perhatikan keindahan dan kerapiannya. Karena bagi wanita berisiko akan terlihat rambutnya saat beribadah atau keluar rumah, meski menggunakan jilbab.

BACA JUGA Pemerintah Pertimbangkan Sanksi Penyalur KUR

Memanjangkan rambut harus bersamaan dengan perilaku memuliakan dan merawatnya dengan rapi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memelihara rambutnya maka hendaklah memuliakannya.” Artinya memuliakan rambut ada lah meminyakinya, menyisirnya, dan tidak mencukurnya secara total karena hal tersebut bertentangan dengan memuliakan rambut.

Salah seorang sahabat pernah da tang kepada Nabi dalam keadaan rambut dan jenggot yang acak-acakan. Nabi kemudian menyuruhnya pulang untuk merapikan setelah rapi baru kembali lagi kepada beliau. Setelahnya Nabi bersabda, “Tidakkah yang seperti ini lebih baik da ri pada kalian datang dalam kondisi rambut acakacakan dan tidak bermi nyak sehingga berpenampilan seperti setan?”

Hal lain yang perlu diperhatikan saat merawat rambut adalah ketentuan mewarnai rambut. Diriwayatkan pada hari pembebasan Kota Makkah, Abu Quhafah dihadapkan kepada Rasulullah yang saat itu rambutnya terlihat sangat putih. Rasul lalu menyuruhnya untuk pergi ke tempat istrinya agar sang istri mewarnai rambutnya dan menghindari warna hitam, sebab diatur dalam hukum semir rambut warna hitam.

Anas bin Malik pernah ditanya tentang cat rambut Rasulullah SAW. Kemudian ia menjawab, “Rambut Rasulullah SAW tidak beruban kecuali sedikit. Akan tetapi, Abu Bakar dan Umar sepeninggal beliau mewarnai rambut mereka dengan daun pacar/inai dan daun katam (sejenis tumbuhan untuk menyuburkan rambut).”

Berdasarkan hal itu, para salafush sholeh dan tabiin berpendapat berdasarkan hadis Rasulullah bahwa ia melarang mewarnai uban dengan warna hitam, pun beliau juga tidak mengecat ubannya. Diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas, Rasul bersabda, “Akan ada di akhir zaman, kaum yang menyemir rambutnya seperti bulu merpati maka dia tidak mencium bau surga.” (Dalam Sahih Abu Daud).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -